My Story Beneath of Hidden Treasure

Post Top Ad

Sabtu, 29 Maret 2025

Komodifikasi Budaya dan Agama dalam Perfilman: Antara Selera Pasar dan Kesadaran Kolektif

 Penulis menemukan sebuah utas di media sosial Threads yang membahas bagaimana budaya Jawa telah mengalami komodifikasi dalam industri film, terutama dengan nuansa horor yang kerap mendominasi. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek budaya yang sakral, filosofis, dan bernilai historis sering kali direduksi menjadi elemen estetika semata demi kepentingan komersial. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu, penulis juga menjumpai sebuah komentar dalam unggahan promo film di Instagram yang mengungkapkan keprihatinan serupa terhadap komodifikasi agama Islam dalam dunia perfilman. Komentar tersebut menyoroti bahwa apa pun genre filmnya—baik horor, drama perselingkuhan, maupun tema lainnya—kerap menampilkan atribut keislaman, seperti pakaian religius, pengajian, atau simbol-simbol keagamaan, yang dalam beberapa kasus menimbulkan kontroversi.

 Fenomena ini memicu beragam reaksi dari masyarakat, mulai dari kritik terhadap eksploitasi nilai-nilai budaya dan agama hingga protes dari kelompok tertentu yang merasa bahwa representasi tersebut tidak sesuai dengan esensi yang sebenarnya. Komodifikasi ini mencerminkan bagaimana industri hiburan sering kali memanfaatkan unsur-unsur budaya dan agama sebagai daya tarik komersial, tanpa mempertimbangkan sensitivitas dan implikasi yang lebih dalam terhadap pemahaman serta penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut.

 

Ilustrasi Film Horor dan Perselingkuhan dalam Perfilman Indonesia (Generated by AI)

Tema Horor dan Perselingkuhan Menjadi Primadona dalam Perfilman

​               Berdasarkan data terbaru, terdapat indikasi kuat bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang signifikan terhadap film bertema horor dan perselingkuhan.​Menurut Harianjogja menyebutkan sepanjang tahun 2024, sebanyak 68 film horor tayang di bioskop Indonesia, meningkat 30,7% dari tahun sebelumnya. Film-film tersebut berhasil menarik 57 juta penonton hingga 29 Desember 2024. ​Dalam sebuah penelitian oleh Lembaga Sensor Film (LSF) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 34% responden memilih horor sebagai genre favorit mereka, mengungguli komedi (28%) dan drama (24,73%). ​

Survei yang dilakukan oleh Jakpat dan Cabaca pada tahun 2022 terhadap 209 responden mengungkapkan bahwa 60,29% responden tertarik dengan cerita, film, atau drama bertema perselingkuhan. ​ Serial "Layangan Putus" dipilih oleh 32,54% responden sebagai drama perselingkuhan yang paling berkesan, diikuti oleh drama Korea "The World of Married". ​Data-data tersebut menunjukkan bahwa tema horor dan perselingkuhan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia, tercermin dari tingginya jumlah produksi, penayangan, dan minat penonton terhadap film dengan tema-tema tersebut.

Film Laris dan Kesadaran Kolektif

 

Film horor laris di pasaran bukan sekadar soal selera hiburan, tetapi juga cerminan tingkat kesadaran kolektif masyarakat. Jika merujuk pada Map of Consciousness karya David R. Hawkins, ketertarikan terhadap film horor berkaitan dengan level Fear (ketakutan), yang memiliki frekuensi di angka 100. Ini menunjukkan bahwa secara umum, banyak orang masih beroperasi dalam mode bertahan hidup (survival mode), di mana rasa takut justru menjadi bagian dari pengalaman yang dicari dan dinikmati, baik secara sadar maupun tidak.

Peta Kesadaran oleh David R Hawkins


Menurut peta kesadaran David R. Hawkins, setiap emosi manusia memiliki tingkat frekuensi tertentu yang mencerminkan tingkat kesadarannya. Film horor, misalnya, sering kali berakar pada emosi ketakutan (fear) yang memiliki frekuensi energi sebesar 100. Rasa takut ini membangkitkan respons biologis dan psikologis yang dapat memicu kecemasan, kewaspadaan berlebih, atau bahkan trauma. Sementara itu, perselingkuhan bukan sekadar tindakan yang merusak kepercayaan dalam suatu hubungan, tetapi juga berakar pada dorongan emosional yang lebih kompleks.

Dalam perspektif peta kesadaran Hawkins, perselingkuhan berada dalam spektrum desire (keinginan) dengan frekuensi 125 dan anger (kemarahan) dengan frekuensi 150. Desire dalam hal ini mencerminkan nafsu atau keinginan yang tak terkendali, sering kali dipicu oleh hasrat duniawi atau ketidakpuasan dalam hubungan. Sedangkan anger menunjukkan aspek lain dari perselingkuhan, yaitu perasaan marah atau dendam yang mungkin muncul akibat ketidakadilan yang dirasakan dalam suatu relasi. Dengan demikian, baik film horor maupun perselingkuhan mencerminkan kondisi kesadaran yang relatif rendah, yang jika tidak disadari dan dikendalikan, dapat menghambat pertumbuhan emosional dan spiritual seseorang.

Apakah ini salah? Tentu tidak. Kesadaran manusia adalah sebuah perjalanan bertahap, seperti menaiki anak tangga. Setiap individu mengalami prosesnya masing-masing untuk meningkatkan kesadaran, baik melalui ujian hidup yang datang dari luar (eksternal) maupun disiplin batin dan refleksi diri (internal). Oleh karena itu, tidak bisa seseorang dipaksa untuk langsung berada pada level kesadaran yang lebih tinggi, misalnya ke tingkat Acceptance (350) atau Love (500), jika dirinya sendiri belum siap.

Inilah mengapa konsep ikhlas tidak bisa dipaksakan. Seseorang hanya bisa benar-benar ikhlas ketika kesadarannya telah mencapai tingkat tertentu. Pemaksaan hanya mungkin dilakukan dalam konteks hukum, yaitu sebagai akibat dari ketidakadilan atau pelanggaran terhadap orang lain. Namun, pemaksaan ini seharusnya hanya dilakukan oleh individu yang telah mencapai level kesadaran yang tinggi, minimal berada pada tingkatan Reason (400) dan Integrity (500). Jika tidak, yang terjadi justru adalah kesalahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan fenomena sosial yang penuh kontradiksi—seperti yang sering kita lihat dalam berbagai kejadian di sekitar kita saat ini.

Seiring waktu, jika kesadaran kolektif masyarakat meningkat, selera terhadap hiburan juga akan berubah. Genre yang lebih reflektif, inspiratif, atau membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi mungkin akan lebih diminati. Namun, semua itu butuh waktu dan proses, karena perjalanan kesadaran manusia bukan sesuatu yang instan, melainkan evolusi yang berlangsung seiring dengan pengalaman dan pelajaran hidup yang dijalani.



Peringatan Hari Film Nasional: 30 Maret

Pada peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret ini, baik bagi insan perfilman maupun masyarakat umum, penulis berharap setiap individu memiliki tingkat kesadaran yang lebih mendalam terhadap posisi dirinya, lingkungan sosialnya, serta pengaruh karya-karya yang dihasilkan atau dikonsumsi. Kesadaran ini menjadi penting karena industri film tidak hanya sekadar media hiburan, tetapi juga merupakan refleksi dari dinamika sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Dengan meningkatnya kesadaran kolektif, baik dari para pembuat film maupun penontonnya, akan tercipta hubungan timbal balik yang lebih sehat dalam ekosistem perfilman. Pembuat film diharapkan mampu menghadirkan karya-karya yang tidak hanya mengikuti tren pasar, tetapi juga memiliki nilai edukatif, inspiratif, dan mampu membangun wawasan yang lebih luas bagi penontonnya. Sebaliknya, masyarakat sebagai konsumen juga perlu lebih selektif dalam memilih tontonan, memahami dampak yang ditimbulkan dari setiap konten yang dikonsumsi, serta turut berkontribusi dalam membentuk selera pasar yang lebih berkualitas.

Karena pada akhirnya, perfilman bukan hanya tentang hiburan semata, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya dapat menjadi cerminan, inspirasi, dan bahkan alat perubahan bagi masyarakat. Oleh karena itu, mari bersama-sama membangun ekosistem perfilman yang lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih berkontribusi bagi kemajuan bangsa.



Referensi:


  Harian Jogja. (2025, January 6). 57 juta orang menonton film horor sepanjang 2024. Retrieved from https://leisure.harianjogja.com/read/2025/01/06/509/1199869/57-juta-orang-menonton-film-horor-sepanjang-2024

  Fakta.com. (n.d.). Riset: Masyarakat Indonesia lebih suka nonton horor daripada komedi. Retrieved from https://fakta.com/hiburan/fkt-5918/riset-masyarakat-indonesia-lebih-suka-nonton-horor-daripada-komedi

  Jawa Pos. (n.d.). 60 persen orang hobi nonton film dan baca novel soal selingkuh. Retrieved from https://www.jawapos.com/lifestyle/01371449/60-persen-orang-hobi-nonton-film-dan-baca-novel-soal-selingkuh

  Haluan.co. (2022, February 24). Survei: 60 persen orang Indonesia tertarik dengan tontonan perselingkuhan. Retrieved from https://lifestyle.haluan.co/2022/02/24/survei-60-persen-orang-indonesia-tertarik-dengan-tontonan-perselingkuhan/

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar