Penulis menemukan sebuah utas di media sosial Threads yang membahas bagaimana budaya Jawa telah mengalami komodifikasi dalam industri film, terutama dengan nuansa horor yang kerap mendominasi. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek budaya yang sakral, filosofis, dan bernilai historis sering kali direduksi menjadi elemen estetika semata demi kepentingan komersial. Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu, penulis juga menjumpai sebuah komentar dalam unggahan promo film di Instagram yang mengungkapkan keprihatinan serupa terhadap komodifikasi agama Islam dalam dunia perfilman. Komentar tersebut menyoroti bahwa apa pun genre filmnya—baik horor, drama perselingkuhan, maupun tema lainnya—kerap menampilkan atribut keislaman, seperti pakaian religius, pengajian, atau simbol-simbol keagamaan, yang dalam beberapa kasus menimbulkan kontroversi.
Fenomena ini memicu beragam reaksi dari
masyarakat, mulai dari kritik terhadap eksploitasi nilai-nilai budaya dan agama
hingga protes dari kelompok tertentu yang merasa bahwa representasi tersebut
tidak sesuai dengan esensi yang sebenarnya. Komodifikasi ini mencerminkan
bagaimana industri hiburan sering kali memanfaatkan unsur-unsur budaya dan
agama sebagai daya tarik komersial, tanpa mempertimbangkan sensitivitas dan implikasi
yang lebih dalam terhadap pemahaman serta penghormatan terhadap nilai-nilai
tersebut.
![]() |
Ilustrasi Film Horor dan Perselingkuhan dalam Perfilman Indonesia (Generated by AI) |
Tema
Horor dan Perselingkuhan Menjadi Primadona dalam Perfilman
Berdasarkan data terbaru,
terdapat indikasi kuat bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang
signifikan terhadap film bertema horor dan perselingkuhan.Menurut Harianjogja
menyebutkan sepanjang tahun 2024, sebanyak 68 film horor tayang di bioskop
Indonesia, meningkat 30,7% dari tahun sebelumnya. Film-film tersebut berhasil
menarik 57 juta penonton hingga 29 Desember 2024. Dalam sebuah penelitian oleh
Lembaga Sensor Film (LSF) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof.
Dr. Hamka (UHAMKA) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 34% responden memilih
horor sebagai genre favorit mereka, mengungguli komedi (28%) dan drama
(24,73%).
Survei yang dilakukan oleh Jakpat dan
Cabaca pada tahun 2022 terhadap 209 responden mengungkapkan bahwa 60,29%
responden tertarik dengan cerita, film, atau drama bertema perselingkuhan. Serial
"Layangan Putus" dipilih oleh 32,54% responden sebagai drama
perselingkuhan yang paling berkesan, diikuti oleh drama Korea "The World
of Married". Data-data tersebut menunjukkan bahwa tema horor dan perselingkuhan
memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia, tercermin dari
tingginya jumlah produksi, penayangan, dan minat penonton terhadap film dengan
tema-tema tersebut.
Film
Laris dan Kesadaran Kolektif
Film horor laris di pasaran bukan sekadar
soal selera hiburan, tetapi juga cerminan tingkat kesadaran kolektif
masyarakat. Jika merujuk pada Map of Consciousness karya David R.
Hawkins, ketertarikan terhadap film horor berkaitan dengan level Fear
(ketakutan), yang memiliki frekuensi di angka 100. Ini menunjukkan bahwa secara
umum, banyak orang masih beroperasi dalam mode bertahan hidup (survival mode),
di mana rasa takut justru menjadi bagian dari pengalaman yang dicari dan
dinikmati, baik secara sadar maupun tidak.
![]() |
Peta Kesadaran oleh David R Hawkins |
Menurut peta kesadaran David R. Hawkins,
setiap emosi manusia memiliki tingkat frekuensi tertentu yang mencerminkan
tingkat kesadarannya. Film horor, misalnya, sering kali berakar pada emosi
ketakutan (fear) yang memiliki frekuensi energi sebesar 100. Rasa takut ini
membangkitkan respons biologis dan psikologis yang dapat memicu kecemasan,
kewaspadaan berlebih, atau bahkan trauma. Sementara itu, perselingkuhan bukan
sekadar tindakan yang merusak kepercayaan dalam suatu hubungan, tetapi juga
berakar pada dorongan emosional yang lebih kompleks.
Dalam perspektif peta kesadaran Hawkins,
perselingkuhan berada dalam spektrum desire (keinginan) dengan frekuensi 125
dan anger (kemarahan) dengan frekuensi 150. Desire dalam hal ini mencerminkan
nafsu atau keinginan yang tak terkendali, sering kali dipicu oleh hasrat
duniawi atau ketidakpuasan dalam hubungan. Sedangkan anger menunjukkan aspek
lain dari perselingkuhan, yaitu perasaan marah atau dendam yang mungkin muncul
akibat ketidakadilan yang dirasakan dalam suatu relasi. Dengan demikian, baik
film horor maupun perselingkuhan mencerminkan kondisi kesadaran yang relatif
rendah, yang jika tidak disadari dan dikendalikan, dapat menghambat pertumbuhan
emosional dan spiritual seseorang.
Apakah ini salah? Tentu tidak. Kesadaran
manusia adalah sebuah perjalanan bertahap, seperti menaiki anak tangga. Setiap
individu mengalami prosesnya masing-masing untuk meningkatkan kesadaran, baik
melalui ujian hidup yang datang dari luar (eksternal) maupun disiplin
batin dan refleksi diri (internal). Oleh karena itu, tidak bisa
seseorang dipaksa untuk langsung berada pada level kesadaran yang lebih tinggi,
misalnya ke tingkat Acceptance (350) atau Love (500), jika
dirinya sendiri belum siap.
Inilah mengapa konsep ikhlas tidak bisa
dipaksakan. Seseorang hanya bisa benar-benar ikhlas ketika kesadarannya telah
mencapai tingkat tertentu. Pemaksaan hanya mungkin dilakukan dalam konteks
hukum, yaitu sebagai akibat dari ketidakadilan atau pelanggaran terhadap orang
lain. Namun, pemaksaan ini seharusnya hanya dilakukan oleh individu yang telah
mencapai level kesadaran yang tinggi, minimal berada pada tingkatan Reason
(400) dan Integrity (500). Jika tidak, yang terjadi justru adalah
kesalahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan fenomena sosial yang penuh
kontradiksi—seperti yang sering kita lihat dalam berbagai kejadian di sekitar
kita saat ini.
Seiring waktu, jika kesadaran kolektif masyarakat meningkat, selera terhadap hiburan juga akan berubah. Genre yang lebih reflektif, inspiratif, atau membangkitkan kesadaran yang lebih tinggi mungkin akan lebih diminati. Namun, semua itu butuh waktu dan proses, karena perjalanan kesadaran manusia bukan sesuatu yang instan, melainkan evolusi yang berlangsung seiring dengan pengalaman dan pelajaran hidup yang dijalani.
Peringatan Hari Film Nasional: 30 Maret
Pada peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret ini, baik bagi insan perfilman maupun masyarakat umum, penulis berharap setiap individu memiliki tingkat kesadaran yang lebih mendalam terhadap posisi dirinya, lingkungan sosialnya, serta pengaruh karya-karya yang dihasilkan atau dikonsumsi. Kesadaran ini menjadi penting karena industri film tidak hanya sekadar media hiburan, tetapi juga merupakan refleksi dari dinamika sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran kolektif, baik dari para pembuat film maupun penontonnya, akan tercipta hubungan timbal balik yang lebih sehat dalam ekosistem perfilman. Pembuat film diharapkan mampu menghadirkan karya-karya yang tidak hanya mengikuti tren pasar, tetapi juga memiliki nilai edukatif, inspiratif, dan mampu membangun wawasan yang lebih luas bagi penontonnya. Sebaliknya, masyarakat sebagai konsumen juga perlu lebih selektif dalam memilih tontonan, memahami dampak yang ditimbulkan dari setiap konten yang dikonsumsi, serta turut berkontribusi dalam membentuk selera pasar yang lebih berkualitas.
Karena pada akhirnya, perfilman bukan hanya
tentang hiburan semata, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya dapat
menjadi cerminan, inspirasi, dan bahkan alat perubahan bagi masyarakat. Oleh
karena itu, mari bersama-sama membangun ekosistem perfilman yang lebih sadar,
lebih bermakna, dan lebih berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Referensi:
Harian Jogja. (2025, January 6). 57 juta
orang menonton film horor sepanjang 2024. Retrieved from https://leisure.harianjogja.com/read/2025/01/06/509/1199869/57-juta-orang-menonton-film-horor-sepanjang-2024
Fakta.com. (n.d.). Riset: Masyarakat
Indonesia lebih suka nonton horor daripada komedi. Retrieved from https://fakta.com/hiburan/fkt-5918/riset-masyarakat-indonesia-lebih-suka-nonton-horor-daripada-komedi
Jawa Pos. (n.d.). 60 persen orang hobi
nonton film dan baca novel soal selingkuh. Retrieved from https://www.jawapos.com/lifestyle/01371449/60-persen-orang-hobi-nonton-film-dan-baca-novel-soal-selingkuh
Haluan.co. (2022, February 24). Survei: 60
persen orang Indonesia tertarik dengan tontonan perselingkuhan. Retrieved
from https://lifestyle.haluan.co/2022/02/24/survei-60-persen-orang-indonesia-tertarik-dengan-tontonan-perselingkuhan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar